Sejarah Ternate

This item was filled under [ Sejarah Ternate ]


Ngara Lamo, gerbang Istana Sultan Ternate di tahun 1930-an

Kerajaan Gapi atau yang kemudian lebih dikenal sebagai Kesultanan Ternate (mengikuti nama ibukotanya) adalah salah satu dari 4 kerajaan Islam di Maluku dan merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada 1257. Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur Nusantara antara abad ke-13 hingga abad ke-17. Kesultanan Ternate menikmati kegemilangan di paruh abad ke -16 berkat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan militernya. Di masa jaya kekuasaannya membentang mencakup wilayah Maluku, Sulawesi utara, timur dan tengah, bagian selatan kepulauan Filipina hingga sejauh Kepulauan Marshall di pasifik.

Asal Usul

Pulau Gapi (kini Ternate) mulai ramai di awal abad ke-13, penduduk Ternate awal merupakan warga eksodus dari Halmahera. Awalnya di Ternate terdapat 4 kampung yang masing – masing dikepalai oleh seorang momole (kepala marga), merekalah yang pertama – tama mengadakan hubungan dengan para pedagang yang datang dari segala penjuru mencari rempah – rempah. Penduduk Ternate semakin heterogen dengan bermukimnya pedagang Arab, Jawa, Melayu dan Tionghoa. Oleh karena aktivitas perdagangan yang semakin ramai ditambah ancaman yang sering datang dari para perompak maka atas prakarsa momole Guna pemimpin Tobona diadakan musyawarah untuk membentuk suatu organisasi yang lebih kuat dan mengangkat seorang pemimpin tunggal sebagai raja.

Tahun 1257 momole Ciko pemimpin Sampalu terpilih dan diangkat sebagai Kolano (raja) pertama dengan gelar Baab Mashur Malamo (1257-1272). Kerajaan Gapi berpusat di kampung Ternate, yang dalam perkembangan selanjutnya semakin besar dan ramai sehingga oleh penduduk disebut juga sebagai “Gam Lamo” atau kampung besar (belakangan orang menyebut Gam Lamo dengan Gamalama). Semakin besar dan populernya Kota Ternate, sehingga kemudian orang lebih suka mengatakan kerajaan Ternate daripada kerajaan Gapi. Di bawah pimpinan beberapa generasi penguasa berikutnya, Ternate berkembang dari sebuah kerajaan yang hanya berwilayahkan sebuah pulau kecil menjadi kerajaan yang berpengaruh dan terbesar di bagian timur Indonesia khususnya Maluku.

Organisasi kerajaan

Di masa – masa awal suku Ternate dipimpin oleh para momole. Setelah membentuk kerajaan jabatan pimpinan dipegang seorang raja yang disebut Kolano. Mulai pertengahan abad ke-15, Islam diadopsi secara total oleh kerajaan dan penerapan syariat Islam diberlakukan. Sultan Zainal Abidin meninggalkan gelar Kolano dan menggantinya dengan gelar Sultan. Para ulama menjadi figur penting dalam kerajaan.

Setelah Sultan sebagai pemimpin tertinggi, ada jabatan Jogugu (perdana menteri) dan Fala Raha sebagai para penasihat. Fala Raha atau Empat Rumah adalah empat klan bangsawan yang menjadi tulang punggung kesultanan sebagai representasi para momole di masa lalu, masing – masing dikepalai seorang Kimalaha. Mereka antara lain ; Marasaoli, Tomagola, Tomaito dan Tamadi. Pejabat – pejabat tinggi kesultanan umumnya berasal dari klan – klan ini. Bila seorang sultan tak memiliki pewaris maka penerusnya dipilih dari salah satu klan. Selanjutnya ada jabatan – jabatan lain Bobato Nyagimoi se Tufkange (Dewan 18), Sabua Raha, Kapita Lau, Salahakan, Sangaji dll. Untuk lebih jelasnya lihat Struktur organisasi kesultanan Ternate.

Moloku Kie Raha

Selain Ternate, di Maluku juga terdapat paling tidak 5 kerajaan lain yang memiliki pengaruh. Tidore, Jailolo, Bacan, Obi dan Loloda. Kerajaan – kerajaan ini merupakan saingan Ternate memperebutkan hegemoni di Maluku. Berkat perdagangan rempah Ternate menikmati pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, dan untuk memperkuat hegemoninya di Maluku Ternate mulai melakukan ekspansi. Hal ini menimbulkan antipati dan memperbesar kecemburuan kerajaan lain di Maluku, mereka memandang Ternate sebagai musuh bersama hingga memicu terjadinya perang. Demi menghentikan konflik yang berlarut – larut, raja Ternate ke-7 Kolano Cili Aiya atau disebut juga Kolano Sida Arif Malamo (1322-1331) mengundang raja – raja Maluku yang lain untuk berdamai dan bermusyawarah membentuk persekutuan. Persekutuan ini kemudian dikenal sebagai Persekutan Moti atau Motir Verbond. Butir penting dari pertemuan ini selain terjalinnya persekutuan adalah penyeragaman bentuk kelembagaan kerajaan di Maluku. Oleh karena pertemuan ini dihadiri 4 raja Maluku yang terkuat maka disebut juga sebagai persekutuan Moloku Kie Raha (Empat Gunung Maluku).

Kedatangan Islam

Tak ada sumber yang jelas mengenai kapan awal kedatangan Islam di Maluku khususnya Ternate. Namun diperkirakan sejak awal berdirinya kerajaan Ternate masyarakat Ternate telah mengenal Islam mengingat banyaknya pedagang Arab yang telah bermukim di Ternate kala itu. Beberapa raja awal Ternate sudah menggunakan nama bernuansa Islam namun kepastian mereka maupun keluarga kerajaan memeluk Islam masih diperdebatkan. Hanya dapat dipastikan bahwa keluarga kerajaan Ternate resmi memeluk Islam pertengahan abad ke-15.

Kolano Marhum (1465-1486), penguasa Ternate ke-18 adalah raja pertama yang diketahui memeluk Islam bersama seluruh kerabat dan pejabat istana. Pengganti Kolano Marhum adalah puteranya, Zainal Abidin (1486-1500). Beberapa langkah yang diambil Sultan Zainal Abidin adalah meninggalkan gelar Kolano dan menggantinya dengan Sultan, Islam diakui sebagai agama resmi kerajaan, syariat Islam diberlakukan, membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam dengan melibatkan para ulama. Langkah-langkahnya ini kemudian diikuti kerajaan lain di Maluku secara total, hampir tanpa perubahan. Ia juga mendirikan madrasah yang pertama di Ternate. Sultan Zainal Abidin pernah memperdalam ajaran Islam dengan berguru pada Sunan Giri di pulau Jawa, disana beliau dikenal sebagai “Sultan Bualawa” (Sultan Cengkih).

Kedatangan Portugal dan perang saudara

Di masa pemerintahan Sultan Bayanullah (1500-1521), Ternate semakin berkembang, rakyatnya diwajibkan berpakaian secara islami, teknik pembuatan perahu dan senjata yang diperoleh dari orang Arab dan Turki digunakan untuk memperkuat pasukan Ternate. Di masa ini pula datang orang Eropa pertama di Maluku, Loedwijk de Bartomo (Ludovico Varthema) tahun 1506. Tahun 1512 Portugal untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Ternate dibawah pimpinan Fransisco Serrao, atas persetujuan Sultan, Portugal diizinkan mendirikan pos dagang di Ternate. Portugal datang bukan semata – mata untuk berdagang melainkan untuk menguasai perdagangan rempah – rempah Pala dan Cengkih di Maluku. Untuk itu terlebih dulu mereka harus menaklukkan Ternate. Sultan Bayanullah wafat meninggalkan pewaris – pewaris yang masih sangat belia. Janda sultan, permaisuri Nukila dan Pangeran Taruwese, adik almarhum sultan bertindak sebagai wali. Permaisuri Nukila yang asal Tidore bermaksud menyatukan Ternate dan Tidore dibawah satu mahkota yakni salah satu dari kedua puteranya, pangeran Hidayat (kelak Sultan Dayalu) dan pangeran Abu Hayat (kelak Sultan Abu Hayat II). Sementara pangeran Tarruwese menginginkan tahta bagi dirinya sendiri. Portugal memanfaatkan kesempatan ini dan mengadu domba keduanya hingga pecah perang saudara. Kubu permaisuri Nukila didukung Tidore sedangkan pangeran Taruwese didukung Portugal. Setelah meraih kemenangan pangeran Taruwese justru dikhianati dan dibunuh Portugal. Gubernur Portugal bertindak sebagai penasihat kerajaan dan dengan pengaruh yang dimiliki berhasil membujuk dewan kerajaan untuk mengangkat pangeran Tabariji sebagai sultan. Tetapi ketika Sultan Tabariji mulai menunjukkan sikap bermusuhan, ia difitnah dan dibuang ke Goa – India. Disana ia dipaksa Portugal untuk menandatangani perjanjian menjadikan Ternate sebagai kerajaan Kristen dan vasal kerajaan Portugal, namun perjanjian itu ditolak mentah-mentah Sultan Khairun (1534-1570).

Pengusiran Portugal

Perlakuan Portugal terhadap saudara – saudaranya membuat Sultan Khairun geram dan bertekad mengusir Portugal dari Maluku. Tindak – tanduk bangsa barat yang satu ini juga menimbulkan kemarahan rakyat yang akhirnya berdiri di belakang sultan Khairun. Sejak masa sultan Bayanullah, Ternate telah menjadi salah satu dari tiga kesultanan terkuat dan pusat Islam utama di Nusantara abad ke-16 selain Aceh dan Demak setelah kejatuhan kesultanan Malaka tahun 1511. Ketiganya membentuk Aliansi Tiga untuk membendung sepak terjang Portugal di Nusantara.

Tak ingin menjadi Malaka kedua, sultan Khairun mengobarkan perang pengusiran Portugal. Kedudukan Portugal kala itu sudah sangat kuat, selain memiliki benteng dan kantong kekuatan di seluruh Maluku mereka juga memiliki sekutu – sekutu suku pribumi yang bisa dikerahkan untuk menghadang Ternate. Dengan adanya Aceh dan Demak yang terus mengancam kedudukan Portugal di Malaka, Portugal di Maluku kesulitan mendapat bala bantuan hingga terpaksa memohon damai kepada sultan Khairun. Secara licik Gubernur Portugal, Lopez de Mesquita mengundang Sultan Khairun ke meja perundingan dan akhirnya dengan kejam membunuh Sultan yang datang tanpa pengawalnya. Pembunuhan Sultan Khairun semakin mendorong rakyat Ternate untuk menyingkirkan Portugal, bahkan seluruh Maluku kini mendukung kepemimpinan dan perjuangan Sultan Baabullah (1570-1583), pos-pos Portugal di seluruh Maluku dan wilayah timur Indonesia digempur, setelah peperangan selama 5 tahun, akhirnya Portugal meninggalkan Maluku untuk selamanya tahun 1575. Kemenangan rakyat Ternate ini merupakan kemenangan pertama putera-putera nusantara atas kekuatan barat. Dibawah pimpinan Sultan Baabullah, Ternate mencapai puncak kejayaan, wilayah membentang dari Sulawesi Utara dan Tengah di bagian barat hingga kepulauan Marshall dibagian timur, dari Philipina (Selatan) dibagian utara hingga kepulauan Nusa Tenggara dibagian selatan. Sultan Baabullah dijuluki “penguasa 72 pulau” yang semuanya berpenghuni (sejarawan Belanda, Valentijn menuturkan secara rinci nama-nama ke-72 pulau tersebut) hingga menjadikan kesultanan Ternate sebagai kerajaan islam terbesar di Indonesia timur, disamping Aceh dan Demak yang menguasai wilayah barat dan tengah nusantara kala itu. Periode keemasaan tiga kesultanan ini selama abad 14 dan 15 entah sengaja atau tidak dikesampingkan dalam sejarah bangsa ini padahal mereka adalah pilar pertama yang membendung kolonialisme barat.

[sunting] Kedatangan Belanda

Sepeninggal Sultan Baabullah Ternate mulai melemah, Spanyol yang telah bersatu dengan Portugal tahun 1580 mencoba menguasai kembali Maluku dengan menyerang Ternate. Dengan kekuatan baru Spanyol memperkuat kedudukannya di Filipina, Ternate pun menjalin aliansi dengan Mindanao untuk menghalau Spanyol namun gagal bahkan sultan Said Barakati berhasil ditawan Spanyol dan dibuang ke Manila. Kekalahan demi kekalahan yang diderita memaksa Ternate meminta bantuan Belanda tahun 1603. Ternate akhirnya sukses menahan Spanyol namun dengan imbalan yang amat mahal. Belanda akhirnya secara perlahan-lahan menguasai Ternate, tanggal 26 Juni 1607 Sultan Ternate menandatangani kontrak monopoli VOC di Maluku sebagai imbalan bantuan Belanda melawan Spanyol. Di tahun 1607 pula Belanda membangun benteng Oranje di Ternate yang merupakan benteng pertama mereka di nusantara.

Sejak awal hubungan yang tidak sehat dan tidak seimbang antara Belanda dan Ternate menimbulkan ketidakpuasan para penguasa dan bangsawan Ternate. Diantaranya adalah pangeran Hidayat (15?? – 1624), Raja muda Ambon yang juga merupakan mantan wali raja Ternate ini memimpin oposisi yang menentang kedudukan sultan dan Belanda. Ia mengabaikan perjanjian monopoli dagang Belanda dengan menjual rempah – rempah kepada pedagang Jawa dan Makassar.

Perlawanan rakyat Maluku dan kejatuhan Ternate

Semakin lama cengkeraman dan pengaruh Belanda pada sultan – sultan Ternate semakin kuat, Belanda dengan leluasa mengeluarkan peraturan yang merugikan rakyat lewat perintah sultan, sikap Belanda yang kurang ajar dan sikap sultan yang cenderung manut menimbulkan kekecewaan semua kalangan. Sepanjang abad ke-17, setidaknya ada 4 pemberontakan yang dikobarkan bangsawan Ternate dan rakyat Maluku.

  • Tahun 1635, demi memudahkan pengawasan dan mengatrol harga rempah yang merosot Belanda memutuskan melakukan penebangan besar – besaran pohon cengkeh dan pala di seluruh Maluku atau yang lebih dikenal sebagai Hongi Tochten, akibatnya rakyat mengobarkan perlawanan. Tahun 1641, dipimpin oleh raja muda Ambon Salahakan Luhu, puluhan ribu pasukan gabungan Ternate – Hitu – Makassar menggempur berbagai kedudukan Belanda di Maluku Tengah. Salahakan Luhu kemudian berhasil ditangkap dan dieksekusi mati bersama seluruh keluarganya tanggal 16 Juni 1643. Perjuangan lalu dilanjutkan oleh saudara ipar Luhu, kapita Hitu Kakiali dan Tolukabessi hingga 1646.
  • Tahun 1650, para bangsawan Ternate mengobarkan perlawanan di Ternate dan Ambon, pemberontakan ini dipicu sikap Sultan Mandarsyah (1648-1650,1655-1675) yang terlampau akrab dan dianggap cenderung menuruti kemauan Belanda. Para bangsawan berkomplot untuk menurunkan Mandarsyah. Tiga diantara pemberontak yang utama adalah trio pangeran Saidi, Majira dan Kalumata. Pangeran Saidi adalah seorang Kapita Laut atau panglima tertinggi pasukan Ternate, pangeran Majira adalah raja muda Ambon sementara pangeran Kalumata adalah adik sultan Mandarsyah. Saidi dan Majira memimpin pemberontakan di Maluku tengah sementara pangeran Kalumata bergabung dengan raja Gowa sultan Hasanuddin di Makassar. Mereka bahkan sempat berhasil menurunkan sultan Mandarsyah dari tahta dan mengangkat Sultan Manilha (1650–1655) namun berkat bantuan Belanda kedudukan Mandarsyah kembali dipulihkan. Setelah 5 tahun pemberontakan Saidi cs berhasil dipadamkan. Pangeran Saidi disiksa secara kejam hingga mati sementara pangeran Majira dan Kalumata menerima pengampunan Sultan dan hidup dalam pengasingan.
  • Sultan Muhammad Nurul Islam atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Sibori (1675 – 1691) merasa gerah dengan tindak – tanduk Belanda yang semena – mena. Ia kemudian menjalin persekutuan dengan Datuk Abdulrahman penguasa Mindanao, namun upayanya untuk menggalang kekuatan kurang maksimal karena daerah – daerah strategis yang bisa diandalkan untuk basis perlawanan terlanjur jatuh ke tangan Belanda oleh berbagai perjanjian yang dibuat para pendahulunya. Ia kalah dan terpaksa menyingkir ke Jailolo. Tanggal 7 Juli 1683 Sultan Sibori terpaksa menandatangani perjanjian yang intinya menjadikan Ternate sebagai kerajaan dependen Belanda. Perjanjian ini mengakhiri masa Ternate sebagai negara berdaulat.

Meski telah kehilangan kekuasaan mereka beberapa Sultan Ternate berikutnya tetap berjuang mengeluarkan Ternate dari cengkeraman Belanda. Dengan kemampuan yang terbatas karena selalu diawasi mereka hanya mampu menyokong perjuangan rakyatnya secara diam – diam. Yang terakhir tahun 1914 Sultan Haji Muhammad Usman Syah (1896-1927) menggerakkan perlawanan rakyat di wilayah – wilayah kekuasaannya, bermula di wilayah Banggai dibawah pimpinan Hairuddin Tomagola namun gagal. Di Jailolo rakyat Tudowongi, Tuwada dan Kao dibawah pimpinan Kapita Banau berhasil menimbulkan kerugian di pihak Belanda, banyak prajurit Belanda yang tewas termasuk Coentroleur Belanda Agerbeek, markas mereka diobrak – abrik. Akan tetapi karena keunggulan militer serta persenjataan yang lebih lengkap dimiliki Belanda perlawanan tersebut berhasil dipatahkan, kapita Banau ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung. Sultan Haji Muhammad Usman Syah terbukti terlibat dalam pemberontakan ini oleh karenanya berdasarkan keputusan pemerintah Hindia Belanda, tanggal 23 September 1915 no. 47, sultan Haji Muhammad Usman Syah dicopot dari jabatan sultan dan seluruh hartanya disita, beliau dibuang ke Bandung tahun 1915 dan meninggal disana tahun 1927. Pasca penurunan sultan Haji Muhammad Usman Syah jabatan sultan sempat lowong selama 14 tahun dan pemerintahan adat dijalankan oleh Jogugu serta dewan kesultanan. Sempat muncul keinginan pemerintah Hindia Belanda untuk menghapus kesultanan Ternate namun niat itu urung dilaksanakan karena khawatir akan reaksi keras yang bisa memicu pemberontakan baru sementara Ternate berada jauh dari pusat pemerintahan Belanda di Batavia.

Dalam usianya yang kini memasuki usia ke-750 tahun, Kesultanan Ternate masih tetap bertahan meskipun hanya tinggal simbol belaka. Jabatan sultan sebagai pemimpin Ternate ke-49 kini dipegang oleh sultan Drs. H. Mudaffar Sjah, BcHk. (Mudaffar II) yang dinobatkan tahun 1986.

Warisan Ternate

Imperium nusantara timur yang dipimpin Ternate memang telah runtuh sejak pertengahan abad ke-17 namun pengaruh Ternate sebagai kerajaan dengan sejarah yang panjang masih terus terasa hingga berabad kemudian. Ternate memiliki andil yang sangat besar dalam kebudayaan nusantara bagian timur khususnya Sulawesi (utara dan pesisir timur) dan Maluku. Pengaruh itu mencakup agama, adat istiadat dan bahasa.

Sebagai kerajaan pertama yang memeluk Islam Ternate memiliki peran yang besar dalam upaya pengislaman dan pengenalan syariat-syariat Islam di wilayah timur nusantara dan bagian selatan Filipina. Bentuk organisasi kesultanan serta penerapan syariat Islam yang diperkenalkan pertama kali oleh sultan Zainal Abidin menjadi standar yang diikuti semua kerajaan di Maluku hampir tanpa perubahan yang berarti. Keberhasilan rakyat Ternate dibawah sultan Baabullah dalam mengusir Portugal tahun 1575 merupakan kemenangan pertama pribumi nusantara atas kekuatan barat, oleh karenanya almarhum Buya Hamka bahkan memuji kemenangan rakyat Ternate ini telah menunda penjajahan barat atas bumi nusantara selama 100 tahun sekaligus memperkokoh kedudukan Islam, dan sekiranya rakyat Ternate gagal niscaya wilayah timur Indonesia akan menjadi pusat kristen seperti halnya Filipina.

Kedudukan Ternate sebagai kerajaan yang berpengaruh turut pula mengangkat derajat Bahasa Ternate sebagai bahasa pergaulan di berbagai wilayah yang berada dibawah pengaruhnya. Prof E.K.W. Masinambow dalam tulisannya; “Bahasa Ternate dalam konteks bahasa – bahasa Austronesia dan Non Austronesia” mengemukakan bahwa bahasa Ternate memiliki dampak terbesar terhadap bahasa Melayu yang digunakan masyarakat timur Indonesia. Sebanyak 46% kosakata bahasa Melayu di Manado diambil dari bahasa Ternate. Bahasa Melayu – Ternate ini kini digunakan luas di Indonesia Timur terutama Sulawesi Utara, pesisir timur Sulawesi Tengah dan Selatan, Maluku dan Papua dengan dialek yang berbeda – beda. Dua naskah Melayu tertua di dunia adalah naskah surat sultan Ternate Abu Hayat II kepada Raja Portugal tanggal 27 April dan 8 November 1521 yang saat ini masih tersimpan di museum Lisabon – Portugal.

Pantai Sulamadaha

This item was filled under [ Wisata pantai ]

Pantai landai berpasir putih konon katanya lebih diminati wisatawan dibanding pantai berpasir hitam. Apalagi kalau pantai itu dilengkapi dengan fenomena matahari terbenam. Tapi lain halnya dengan pantai yang satu ini. Kendati berpasir hitam dan tidak berpanorama sunset, namun tetap saja banyak yang mencumbuinya. Sulamadaha, begitu orang Ternate menyebut pantai berpasir hitam ini sejak dulu. Pantai ini cukup populer di Ternate. Setiap hari ada saja warga Ternate dan sekitarnya yang berekreasi di sana, terlebih pada akhir pekan dan liburan Hari Raya. Biasanya yang datang keluarga beserta anak-anak dan tak sedikit pasangan muda-mudi

Seperti jelang sore itu, di pantainya ada beberapa orang sedang menikmati keindahannya. Ada beberapa anak kecil yang asyik bermain papan luncur sederhana. Ada sepasang muda-mudi yang berkejaran dengan ombak lautnya yang kecil. Ada pula satu keluarga yang bermain pasir hitamnya, membentuk bangunan dan patung.
Di bagian kanan pantai dekat batu karang, nampak sepasang muda-mudi sedang berenang. Sesekali mereka tertawa, sambil berpelukan. Di belakang mereka, sebuah perahu berlayar melaju pelan, pulang melaut.
Di sudut lain, tepatnya di deretan warung sederhana baratapkan berarak daun kelapa. beberapa pengunjung yang terdiri dari orang tua dan anak-anaknya sedang duduk-duduk santai sambil menikmati es kelapa muda dan aneka jajajan. Pada hari biasa, tak banyak pedagang warung yang berjualan di dekat pantai ini. Namun pada akhir pekan dan liburan, warung yang buka lebih ramai lantaran pengunjungnya pun lebih banyak.
Pantai Sulamadaha meski tak berpasir putih, namun memiliki pesona tersendiri. Pantai ini berhadapan langsung dengan Pulau Hiri, dengan bukit hijaunya. Dari pantainya, Bukit Hiri terlihat jelas seperti muncul dari permukaan laut. Pulau Hiri, dulu menjadi tempat pengasingan Sultan Muhammad Djabir Syah (Ayah Sultan Ternate sekarang), yang sengaja diungsikan supaya tidak ditangkap oleh tentara Belanda.
Pengunjung bisa menyeberang ke Pulau Hiri dari Pantai Sulamadaha dengan menyewa perahu nelayan. Sebaiknya berangkat pagi agar bisa balik ke pantai ini sore hari. Kalau berniat ingin mendaki bukitnya, sebaiknya mempersiapkan diri dengan perlengkapan dan perbekalan yang lebih memadai, seperti tenda, sepatu lapangan, makanan, dan sebagainya.
Di sebelah kiri ke arah barat Pantai Sulamadaha, terdapat Teluk Saomadaha yang berbentuk piramid. Pantai di Teluk Saomadah berpasir putih dan di dasar perairannya terdapat taman laut sehingga kita bisa melakukan aktivitas snorkel dan diving. Kalau ingin menyelam, pengunjung harus membawa peralatan sendiri. Sebab di sana belum ada rental penyewaan alat-alat snorkel dan diving.
Pantai Sulamadaha cukup bersih. Ombaknya tidak terlalu besar. Di bagian kanan dan kiri pantai ini terdapat tebing karang kecil yang ditumbuhi semak belukar dan pepohonan besar.
Kalau ingin mencari suasana yang sepi, sebaiknya datang ke Sulamadaha di luar akhir pekan atau libur Hari Raya. Bawa serta pakaian ganti, kalau ingin berenang di laut. Dan tak kalah penting, bawa kamera atau handycam untuk mengabadikan pesona Pantai Sulamadaha.
Pantai Sulamadaha berada di Ternate, Provinsi Maluku Utara. Dari Jakarta naik pesawat jurusan Ternate, biasanya transit di Makassar atau Manado. Setibanya di Bandara Sultan Babullah, Ternate, naik angkot atau taksi ke pusat kota. Dari pusat Kota Ternate ke Pantai Sulamadaha sekitar 1 jam.
Pantai lainnya di Ternate antara lain Pantai Dorpedo, Kastela, Tabanga, dan Pantai Bubane Ici. Pantai Dorpedo terletak di Kelurahan Aftador, 19 Km arah Selatan pusat Kota Ternate. Pantai ini lautnya berombak besar. Pantai Kastela, 10 Km arah Selatan Kota Ternate. Di pantai ini kita dapat menikmati indahnya matahari terbenam. Pantai Tabanga yang berpasir putih, berada di Kelurahan Tabam, 12 Km arah Selatan Kota Ternate. Pantai Bubane Ici berada di Kelurahan Aftador 19 Km arah Selatan Kota Ternate. Dapat dijangkau dengan transportasi umum. Pantai ini lautnya jernih dengan panorama pantai dan taman yang indah.
Selain pantai, Ternate juga memiliki tiga danau, yakni Danau Ngade, Tolire Kecil dan Danau Tolire Besar. Danau Ngade berada 10 Km di sebelah Selatan Kota Ternate, dapat di tempuh dengan kendaraan umum selama 20 menit dari pusat kota. Danau ini dikelilingi panorama alam yang cantik seperti tebing dan tumbuh-tumbuhan air. Di danau berair tenang ini, kita dapat melakukan berbagai aktivitas, seperti naik perahu sampan sambil memancing dan ber-jetski.
Danau Tolire kecil dan besar letaknya terpisah, namun keduanya berada di Desa Takome. Danau Tolire kecil berada dekat tepi pantai. Airnya payau, karena jaraknya dekat dengan laut sekitar 50 meter. Kalau kita mengunjungi Danau Tolire besar, pasti melewati Danau Tolire kecil. Sedangkan Danau Tolire besar atau disebut Tolire Jaha berada di lereng Gunung Gamalama, di ketinggian 200 meter di atas permukaan laut. Air Danau Tolire besar berwana hijau saat musim panas dan coklat pada waktu hujan.

Tarian cakalele

This item was filled under [ Tarian Traditional ]

Tari Cakalele

Tarian Cakalele atau tarian kebesaran adalah tarian perang yang saat ini lebih sering dipertunjukan untuk menyambut tamu agung maupun untuk acara yang bersifat adat.

Tari Cakalele. Foto: Halmaherautara.com

Cakalele merupakan tarian tradisional Maluku yang dimainkan oleh sekitar 30 laki-laki dan perempuan. Para penari cakalele pria biasanya menggunakan parang dan salawaku sedangkan penari wanita menggunakan lenso (sapu tangan). Cakelele merupakan tarian tradisional khas Maluku.

Para penari laki-laki mengenakan pakaian perang yang didominasi oleh warna merah dan kuning tua. Di kedua tangan penari menggenggam senjata pedang (parang) di sisi kanan dan tameng (salawaku) di sisi kiri, mengenakan topi terbuat dari alumunium yang diselipkan bulu ayam berwarna putih. Sementara, penari perempuan mengenakan pakaian warna putih sembari menggenggam sapu tangan (lenso) di kedua tangannya. Para penari Cakalele yang berpasangan ini, menari dengan diiringi musik beduk (tifa), suling, dan kerang besar (bia) yang ditiup.

Salawaku-Tameng. Foto: halmaherautara.com

Keistimewaan tarian ini terletak pada tiga fungsi simbolnya. (1) Pakaian berwarna merah pada kostum penari laki-laki, menyimbolkan rasa heroisme terhadap bumi Maluku, serta keberanian dan patriotisme orang Maluku ketika menghadapi perang. (2) Pedang pada tangan kanan menyimbolkan harga diri warga Maluku yang harus dipertahankan hingga titik darah penghabisan. (3) Tameng (salawaku) dan teriakan lantang menggelegar pada selingan tarian menyimbolkan gerakan protes terhadap sistem pemerintahan yang dianggap tidak memihak kepada masyarakat.

Wisata Batu Angus

This item was filled under [ Uncategorized ]
TERNATE - Tak selamanya kemurkaan alam itu tidak membawa hikmah bagi manusia. Salah satunya yakni bongkahan lava kering, “buah” dari letusan Gunung Gamalama di kota Ternate, Maluku Utara, ratusan tahun lalu, yang kini meninggalkan bekas.

Batu Angus, sebutan untuk bongkahan hitam lava yang mengering dan membatu itu sekaligus dijadikan nama lokasinya.

Memang masih banyak warga yang belum menjadikan lokasi ini sebagai sasaran untuk dijadikan tempat wisata berakhir pekan atau mengisi waktu liburan. Lokasi ini memang kerap hanya dijadikan persinggahan sementara oleh para wisatawan untuk berfoto dengan latar belakang hamparan kubahan lava letusan Gunung Gamalama yang sudah mengering ini.

Selain ramai, tentunya hantaman ombak dan hamparan pasir di bibir pantai yang menjadi tujuan utama para wisatawan lebih membuat para wisatawan tertarik dibandingkan hanya menatap bongkahan batu-batu raksasa yang lebih banyak dijadikan bahan bangunan rumah.

Tapi jangan salah. Batu Angus justru memiliki keindahan lain yang tersembunyi. Panorama keindahan alam laut dan bentangan pulau Halmahera ini sulit didapat di tempat lain. Lokasinya yang tinggi, cukup menyimpan pemandangan panorama indahnya kota Ternate, yakni laut dan pulau-pulau yang ada dihadapannya.

Di dalam kubahan lava letusan gunung tahun 1673 ini, kita bisa menikmati indahnya laut dan bentangan pulau Halmahera dari ketinggian. Perpaduan onggokan bebatuan bagaikan stalagmite hitam yang muncul dari permukaan bumi dengan hijau Gunung Gamalama, serta laut biru yang terbentang. Sungguh sebuah pemandangan yang unik memesona dan jarang ditemui.
Tumpukan batuan lava skoria ini tersusun seakan ditata tangan raksasa sehingga menghasilkan fisik yang legam.

Di belakangnya terbentang Gunung Gamalama dengan kawahnya yang menganga, yang menjadi sumber asal batu-batu tersebut, serta hamparan hutan dan pepohonan kelapa. Lokasinya memang berbeda jauh dengan lokasi wisata yang ada. Nuansa gersang sangat terasa karena tidak ada satupun pohon yang memberikan keteduhan.

Kondisi kawasan wisata Batu Angus ini memang masih amat natural dan belum tersentuh tangan jahil atau olahan manusia, selain jalan masuk yang berliku-liku yang panjangnya sekira 200 meter yang dibangun oleh pemerintah.

Namun, kokohnya kubahan lava yang mengering dan membatu itu justru menjadi “pohon” bagi wisatawan yang memberikan keteduhan dan kerindangan untuk bersantai dan menikmati panorama dari atas.

Selain tersembunyi, kondisi inilah yang kerap membuat salah satu lokasi wisata ini jarang dikunjungi para wisatawan.

“Paling banyak yang datang ke sini hanya pasangan muda-mudi untuk bersantai dan menghabiskan waktu di sore hari,” kata Ongen, warga kelurahan Kulaba, kecamatan Pulau Ternate yang menjadi kampung yang “menempel” di Batu Angus.

Bersantai di lokasi wisata dalam hamparan lava kering dengan luas hampir mencapai 10 hektar ini, memang pas dilakukan di waktu senja, kala matahari akan “beristirahat”.

Hanya saja, karena memang hanya dijadikan tempat transit, tentunya tak ada yang tertarik untuk membuat warung-warung yang menjajakan dagangan kuliner, seperti di lokasi wisata yang lain. Jadi, bagi yang ingin bersantap sambil memandang panorama laut dari ketinggian, harus membawa bekal sendiri.

Bagi wisatawan maupun warga Madanipolis (sebutan Ternate), yang hobi berkemah sambil membuat api unggun di malam hari, lokasi wisata kubahan lava letusan Gunung Gamalama ini sangat cocok dan pas. Lokasinya yang berada di ujung kota itu, menjadikan jalan menuju Batu Angus mudah untuk diakses. Selain dengan kendaraan pribadi, angkot atau ojek, dengan harga yang cukup terjangkau, mulai dari Rp5 ribu sampai 10 ribu saja.

Jalan raya yang melintasi kawasan ini pun dirancang sedemikian rupa hingga membelah kawasan tersebut menjadi dua bagian. Jadi, jika melewati jalur ini, kita akan bisa menengok ke kiri maupun ke kanan untuk menikmati panorama Batu Angus

Benteng Tolucco

This item was filled under [ Wisata Benteng ]

Benteng ini semula dibangun oleh Fransisco Serao, seorang berkebangsaan Portugis, pada tahun 1540 kemudian direnovasi oleh Pieter Both, bangsa Belanda, pada tahun 1610. Benteng ini sering disebut benteng Holandia atau Santo Lucas, yang terletak di bagian utara kota Ternate. Benteng ini oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1661 mengizinkan Sultan Mandarsyah untuk menempatinya dengan kekuatan pasukan sebanyak 160 orang. Benteng ini berada di kelurahan Dufa – dufa yang berjarak ± 3 km dari pusat kota Ternate dan dapat dicapai dengan kendaraan darat. Kondisi benteng saat ini baik, karena baru saja dipugar, walaupun cara pengerjaannya masih kurang memuaskan sebagai suatu benda peninggalan sejarah masa lalu.

Lubang bumi

This item was filled under [ Uncategorized ]

lubang lubang pada bumi semakin bermunculan. ada apa dengan bumi ini. tentu saja tidak mudah untuk mengetahui sebab lubang lubang di bumi bermunculan. tapi ada tebakkan sederhana dari saya. tapi nanti pada paragraf selanjutnya. lubang yang bermunculan itu sangat mengkhawatirkan. membuat mata manusia menjadi terbelalak lebar dan geleng geleng kepala. pasalnya ini terjadi tidak hanya di satu negara saja. tapi di beberapa negara. seperti lubang guetamala, lobang china dan beberapa lobang lagi yang terjadi pada fenomena alam lobang lubang bumi. whats goin on.

pada terjadinya daratan bumi ambrol atau terbuat lobang. pengartiannya bisa kita tebak. bahwa isi bumi menjadi kopong dan menarik lapisan teratas bumi untuk mengisi kekopongan isi perut bumi. kontan lubang itu terjadi dalam beberapa saat saja. kenapa perut bumi bisa kopong ? perut bumi kosong bisa bebeerapa sebab. kemungkinan besar isi perut bummi yang panas ini, keluar dari perut bumi melalui gunung gunung berapi yang meletus dan mengeluarkan larva panas ke daratan bumi. larva tersebutlah sebagai isi perut bumi yang keluar. pada terjadinya letusan gunung berapi keadaan pada daratan bumi baik baik saja. tidak terjadi penurunan dataran bumi yang kita pijak. ya sebenarnya bisa kita bayangkan. saat isi perut bumi keluar dari letusan gunung berapi kekopongan pada perut bumi bergerak dan menjadi berjalan pada kekopongan itu dikarenakan rotasi bumi yang berputar. kekopongan iu berjalan dan berdiam pada satu tempat. perpindahan kekokpongan perut bumi ini bisa antar negara. jadi bila di china terjadi letusan gunung berapi maka kekopongan pada perut bumi bisa saja terletak pada negara amerika. dan ini adalah suatu bayangan saja untuk para pembaca.

pada saat kopongnya perut bummi berdiam pada satu tempat. maka gravitas bumilah yang menekan dataran bumi yang kita pijak ini menjadi ambrol. tapi kenapa hal itu terjadi tiba tiba ? itu dikarenakan longsornya daratan bumi itu keras. layak bebatuan besar yang padat. disaat bebatuan yang padat itu terdapat ruang kosong pada bagian bawahnya. maka perlahan dataran bumi ini ketarik ke ruang kopong bumi. dan ini terjadi tidak dengan singkat. melainkan melalui retakan retakkan kecil yang terbentuk dari waktu ke waktu. dan pada waktunya daratan bumi yang kita pijak ambrol dengan retakkan yang telah terjadi pada bagian atas kopongnya perut bumi. terlihat jelas sekali beberapa lubang besar yang terjadi dibumi, membuat retakan dengan melingkar. ini adalah yang menguatkan pendapat saya. retakkan itu terjadi karena kopongnya perut bumi pada bagian bawah bumi yang longsor atau amblas keperut bumi.

apa penyebab jelasnya ? penyebabnya adalah seperti yang tadi sudah saya gambarkan. yaitu meletusnya gunung gunung berapi. yang memuntahkan isi perut bumi  keluar dari dalam perut bumi. dan ber ton ton massa yang keluar dari perut bumi kita. dan satu hal yang musti di ingat TRAGEDI SEMBURAN LAPINDO. ini bagi saya penyebab besar terjadinya kekopongan perut bumi. mungkin dalam beberapa tahun lagi akan terjadi lobang massal pada dataran bumi, apabila semburan itu terus mengeluarkan lumpur / isi perut bumi.

dan jelas sekali pada daratan di sidoarjo terjadinya penurunan. ya itu dikarenakan isi perut bumi yang keluar pada daerah tersebut. tetapi bahayanya adalah kopongnya isi perut bumi yang terus bergerak pada tragedi lumpur sidoarjo ini. beberapa tahun lagi menurut saya akan terjadi amblasnya daratan bumi secara massal. dan entah itu akan terjadi pada bagian negara mana. ini semua hanya dari kacamata saya saja. dan saya bukan profesional dalam ilmu sperti ini. saya hanya menggambarkan hal ini dari kacamata pemikir bodoh. anda bisa percaya pada tulisan saya. maupun membodohi tulisan saya. dan itu terserah anda menilainya.

mari kita perhatikan photo foto sebagian lubang lobang yang telah terjadi pada daratan bumi kita ini.

Danau tolire

This item was filled under [ cerita rakyat ]
Jalan-jalan ke Ternate tidaklah lengkap tanpa mengunjungi Danau Tolire. yang terletak di bawah kaki Gunung Gamalama. Danau Tolire ini ada 2 macam, yakni danau Tolire besar dan Kecil. Kedua danau tersebut berjarak kira-kira 300 meter. Kedua danau tersebut sangat indah, dan berwarna hijau kecoklatan, ini mungkin karena pantulan dari pohon-pohon yang tumbuh subur di sekeliling Danau.
Tak ada yang tau pasti kedalaman danau ini, ada yang bilang sampai berkilo-kilo kedalamannya. Katanya sich jika kita melempar batu ke dalam danau ini, tidak akan pernah mencapai permukaan danau, tetapi ini hanya mitos yang berkembang dalam masyarakat untuk menggambarkan kedalaman danau, karena saya sendiri pernah mencoba dan ternyata batu lemparan saya tersebut bisa mencapai permukaan danau. Diyakini pula, Danau Tolire ini dihuni oleh siluman buaya, makanya tak heran jika tidak ada masyarakat yang berani menangkap ikan atau mandi di danau itu, dulu pernah ada wisatawan yang nekat turun dan berenang di Danau ini tapi kemudian ia hilang begitu saja, dan masyarakat setempat percaya wisatawan itu dimakan buaya siluman .
Selain mempercayai adanya siluman, masyarakat setempat juga mempercayai bahwa di dasar Danau Tolire banyak terdapat harta benda berharga milik masyarakat setempat yang dibuang ke Danau secara sengaja agar tidak diambil penjajah dahulu, tetapi sampai saat ini belum ada lembaga ataupun institusi yang meneliti tentang kebenaran hal tersebut.
Ada legenda yang hidup dalam masyarakat tentang asal-usul danau Tolire. Diceritakan bahwa pada jaman dahulu ada seorang bapak yang menghamili anak gadisnya. Karena malu, anak gadisnya tersebut lari dari kampung, tetapi sementara ia lari dari kampung, baik si ayah maupun anak gadisnya mendapat kutukan dari Tuhan. Tanah tempat mereka berdiri anjlok dan berubah menjadi danau. Tanah tempat si ayah berdiri berubah menjadi danau Tolire besar dan tanah tempat si anak gadis berdiri berubah menjadi danau Tolire kecil. Walaupun hanya sekedar legenda, tetapi cerita ini sangat diyakini oleh masyarakat Ternate hingga saat ini.
Terlepas dari legenda yang dimilikinya, pantai ini memang layak dikunjungi, sayangnya belum banyak fasilitas umum yang tersedia di kawasan tersebut. Di sepanjang perjalanan menuju danau Tolire kita bisa menikmati pemandangan di bawah kaki gunung Gamalama dan pohon-pohon kelapa di kiri kanan jalan.
Penasaran ingin menikmati keindahan danau ini?? datang saja ke Ternate, dari pusat kota ke danau tersebut ditempuh hanya dalam waktu 20 menitan, kita bisa menyewa mobil atau hanya dengan menggunakan ojek Rp. 10.000, murah bukan??

Pharmaceeutical care

This item was filled under [ ilmu pembelajaran ]

Asuhan kefarmasian (pharmaceutical care) adalah suatu bentuk layanan langsung seorang apoteker kepada konsumen obat (pasien) dalam menetapkan, menerapkan dan memantau pemanfaatan obat agar menghasilkan outcome terapetik yang spesifik ( UCSF). Melalui penerapan asuhan kefarmasian yang memadai diharapkan masyarakat yang mengonsumsi obat mendapat jaminan atas keamanannya.

Therapeutic outcome yang efektif dari suatu obat berkorelasi dengan proses penyembuhan penyakit, pengurangan gejala penyakit, perlambatan pengembangan penyakit dan pencegahan penyakit. Selain itu therapeutic outcome yang efektif juga menjamin tidak adanya komplikasi atau gangguan lain yang dimunculkan oleh penyakit, menghindarkan atau meminimalkan efek samping obat, biaya yang efisien dan mampu memelihara kualitas hidup pasien.

Perlu disadari bahwa konsumen obat langsung atau tidak langsung berpeluang untuk mengalami keadaan yang tidak dikehendaki  akibat mengonsumsi obat. Keadaan ini timbul  akibat salah terapi, salah obat, dosis tidak tepat, reaksi obat yang berlawanan, interaksi obat dan penggunaan obat tidak sesuai indikasi. Jadi, alih alih mendapatkan therapeutic outcome yang optimal, konsumen malah mendapatkan masalah baru. Oleh karena itu fungsi utama asuhan kefarmasian adalah mengidentifikasi drug related problem (DRP), mencari solusi atas DRP yang bersifat aktual serta mencegah munculnya DRP yang potensial.

Apotek sebagai tempat pengabdian profesi apoteker semestinya adalah sarana yang sangat tepat bagi apoteker untuk memberikan asuhan kefarmasian kepada masyarakat. Secara filosofis, konsumen yang datang ke apotek sejatinya bukan semata-mata akan membeli obat. Mereka membutuhkan saran atas masalah yang berkaitan dengan kesehatan mereka. Bahwa bila diakhir kunjungannya mereka membeli obat, dapat dipastikan hal itu terjadi setelah melalui tahap pemberian asuhan kefarmasian.

Paradigma tersebut memperjelas sekaligus mempertegas bahwa  apotek tidak lain adalah pusat asuhan kefarmasian. Dan profesi yang memiliki kompetensi untuk menjalankannya adalah apoteker. Sehingga, konsep no pharmacist no service atau tiada apoteker tiada pelayanan (TATAP) adalah konsukuensi logis atasnya.

Dengan pemahaman yang demikian rasanya tidak ada lagi alasan bagi apoteker untuk medelegasikan tugasnya kepada orang lain kecuali sesama apoteker. Juga tidak ada alasan bagi apoteker untuk tidak ada di tempat sewaktu apotek buka. Dan karena tuntutan profesi maka apoteker harus selalu meng update ilmunya agar kompetensinya terpelihara.

Possibly Related Posts:

Mahkota sultan ternate

This item was filled under [ adat kesultanan ]

Mahkota Sultan Ternate, memiliki cirri berambut panjang, terurai kebelakang, bertumbuh dan berkembang, memiliki keunikan tersendiri, yang Dililit dan dihiasi batu – batuan permata kira – kira seratus buah yang terdiri dari; perunggu, perak, emas, berlian, mutiara, akik, shafier, jamrud, dll. Sepotong kayu dibuat khusus untuk meletakan mahkota, kayu itu disebut QALBU. Terjemahan dari buku Bijdragen TOT de Kenmis Der Residentie Ternate bl 2 (hal) 30… Mereka tidak membedakan antara Mahkota dan perhiasannya (Harta Kolano). Berikut ini adalah Perhiasan Mahkota Sultan Ternate.
1. Bulan sabit yang ditata dengan 17 (Tujuh Belas) permata dan 26 (Dua Puluh Enam) batu permata dari Ceylon / Srilanka.
2. 2 (Dua) Dahengora dari emas yang masing – masing Dahengora ditata dengan 6 (Enam) intan dari Ceylon / Srilanka.
3. 7 (Tujuh) bintang ditata dengan permata (Intan)
4. Kembang matahari bertata permata (Intan)
5. 1 (Satu) anting – anting besar berpermata (Intan)
6. 12 (Dua Belas) anting – anting bertata 60 (Enam Puluh) Intan
7. Sebuah batu permata merah berbentuk bulat besar
8. 2 (Dua) permata topaz
9. 80 (Delapan Puluh) batu permata
10. Sebuah kalung emas berbentuk kipas yang sambung menyambung
11. Sebuah kalung emas berbentuk buah belimbing yang sambung menyambung
12. Sebuah kalung emas yang bertata 24 (Dua Puluh Empat) Intan
13. Sebuah kalung emas dari Makassar.

Berdasarkan pada Galib Sa Lakuni, sejak dahulu kala secara turun temurun sampai sekarang, bila datang hari raya idul adha setelah habis sembahyang maka di istana sultan Ternate diadakan upacara pemotongan rambut mahkota.

Download

This item was filled under [ Uncategorized ]

jpg

pdf

doc